On-Going Grief
Aku tak pernah mengantarmu ke pintu setiap kali berangkat ekspedisi, Mang¹ Aku selalu menyibukkan diri — karena lebih mudah skip the hard part. Aku gak pernah bilang “selamat jalan,” karena waktu itu aku takut… itu akan jadi kali terakhir aku melihatmu. Takut mobilmu kecelakaan di jalan. Takut namamu masuk berita. Takut kami cuma bisa mengenang momen terakhir di depan pintu. Aku ingin mengingatmu di tempat yang lebih hidup — di meja makan, dengan tawa yang hangat dan sendok yang belum sempat diletakkan. Maka setiap kali kau berangkat, aku memilih membereskan meja makan. Sibuk, pura-pura sibuk. Padahal aku sedang melarikan diri dari perpisahan. Sekarang, Mang benar-benar pergi. Selamanya. Sudah setahun aku berpura-pura kau masih di sini. Aku masih mengulang percakapan kita, masih membiarkan setengah kaleng susu kalsiummu di rak, masih belum menyentuh tas tanganmu yang tergeletak begitu saja. Tapi hatiku… ia ingin bertanya satu hal kecil, dan kenyataan menghantamku...