On-Going Grief
Aku tak pernah mengantarmu ke pintu setiap kali berangkat ekspedisi, Mang¹
Aku selalu menyibukkan diri — karena lebih mudah skip the hard part.
Aku gak pernah bilang “selamat jalan,”
karena waktu itu aku takut… itu akan jadi kali terakhir aku melihatmu.
Takut mobilmu kecelakaan di jalan.
Takut namamu masuk berita.
Takut kami cuma bisa mengenang momen terakhir di depan pintu.
Aku ingin mengingatmu di tempat yang lebih hidup — di meja makan,
dengan tawa yang hangat dan sendok yang belum sempat diletakkan.
Maka setiap kali kau berangkat, aku memilih membereskan meja makan.
Sibuk, pura-pura sibuk.
Padahal aku sedang melarikan diri dari perpisahan.
Sekarang, Mang benar-benar pergi. Selamanya.
Sudah setahun aku berpura-pura kau masih di sini.
Aku masih mengulang percakapan kita,
masih membiarkan setengah kaleng susu kalsiummu di rak,
masih belum menyentuh tas tanganmu yang tergeletak begitu saja.
Tapi hatiku…
ia ingin bertanya satu hal kecil, dan kenyataan menghantamku keras.
Aku cuma ingin tahu:
“Mang, musik siapa yang lebih Mang suka — aku atau Kak Oden?”
Kan Mang pernah bilang, musikku dan musik Kak Oden itu beda.
Aku tahu itu pertanyaan remeh,
tapi aku cuma ingin mengenalmu sedikit lebih banyak lagi.
Dari delapan puluh tujuh tahun hidupmu, aku masih belum puas.
Aku ingin tahu rahasiamu —
kenapa Mang bisa gak pernah marah?
Dulu aku pikir aku tahu jawabannya,
tapi sekarang aku ingin mendengarnya langsung darimu.
Mang,
kau ajarkan aku untuk tetap curious.
Ajarkan aku cara meletakkan buku agar tidak terlipat di dalam tas sekolah.
Kau izinkan aku mempertahankan diriku ketika diganggu anak-anak lain.
Kau ajarkan aku jajan di kantin sekolah
karena aku terlalu takut membelanjakan jerih payahmu.
Tak mungkin kau lupa,
atau luput darimu —
untuk melatihku cara mengucapkan selamat jalan.
Mungkin ini pelajaran terakhir yang harus aku temukan sendiri,
karena kau tentu bijak untuk tahu
ada pelajaran yang tidak bisa dipaksakan.
Sekarang, aku mencoba memahami makna “selamat” tanpa kehilangan.
Mungkin selamat jalan bukan perpisahan,
tapi janji untuk bertemu lagi di tempat yang abadi.
Atau mungkin…
ini juga masih denial.
________________
¹ Mang adalah panggilan untuk ayah dalam bahasa Muara Rupit,
Komentar
Posting Komentar