Katalisator 2
Ia tahu aku mengamatinya sehingga ia membuat pose imut dengan mata dikerjapkan berkali-kali. Ia mengenakan rok krem, baju kaos putih motif garis abu-abu dan bergo hijau tua. Selama mengenalnya, itu outfit dengan tone warna paling lembut. Biasanya ia memakai baju dengan warna menyala dengan kombinasi jilbab tabrak warna dan dia tidak peduli.
Pilihan kombinasi pakaiannya mewakili kepercayaan dirinya yang tidak ambil peduli dengan perspektif orang lain begitu juga dalam hal berbicara. Jika ia ingin mengutarakan sesuatu maka tidak ada yang dapat menghalanginya.
Begitupun hari ini, perempuan pemberani dengan suaranya yang lantang,memotivasi ibu-ibu untuk tidak ragu mengutarakan permasalahan mereka. Namun tetap saja tidak ada yang berani angkat bicara sehingga ia melanjukan dengan menceritakan masing-masing permasalahan yang telah diadukan anggota kepadanya.
Kadang ia menggambil pendekatan yang lebih berani dalam memancing respon anggota. Misalnya dengan mengkonfrontasi individu tentang alasan pelanggaran yang telah dilakukan . Anggota yang merasa terpojok seringkali naik pitam dibuatnya tapi hal ini efektif untuk mencari penyebab masalah sehingga solusinya tepat.
Kehadirannya tidak pernah gagal membuat dinamis pertemuan entah itu damai atau bersitegang. Hal yang paling aku takutkan dalam pertemuan adalah kondisi statis, diam dan manut saja. Jika hal ini terjadi, kami sebagai penyuluh harus mengeluarkan senjata kami. Senjata kami adalah pertanyaan. Namun, jika pertanyaannya tidak tepat maka percuma. Seperti memancing dengan mata kail yang salah.
Jika terjadi kemandekan di dalam pertemuan, berarti ada PR yang harus kami kerjakan yaitu menggunjungi rumah masing-masing anggota untuk melakukan pendekatan pribadi. Berusaha menggali permasalahan teknis di usaha pertaniannya dan permasalahan sosial antar anggota. Kunjungan yang tidak cukup hanya sekali dua kali dan setiap kunjungan menghabiskan waktu satu sampai dua jam. Jadi bisa dibayangkan banyaknya waktu yang harus dihabiskan jika anggota kelompoknya mencapai 30 orang.
Makanya peran Ibu Ratu dalam pekerjaanku amat membantu. Membuat pekerjaanku di lapangan lebih mudah dan efektif.
Beberapa kali ia pernah menyatakan bahwa mungkin ada yang bosan mendengar dia berbicara lagi dan lagi. Walau ia menyampaikan dengan bercanda segera aku sangkal pikirannya karena perannya sebagai katalisator kelompok sangat diperlukan untuk kemajuan pembangunan pertanian.
#30 DWC jilid 25
#Day 26
Komentar
Posting Komentar